Tampilkan postingan dengan label Dunia Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Remaja. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2009

Bahaya Tren Fesyen bagi Remaja

Bahaya Tren Fesyen bagi Remaja
Apabila menonton sinetron atau film yang bertemakan remaja, kita akan dapat melihat fenomena-fenomena yang sangat membuat hati kita miris, antara lain, tema ceritanya yang tak beranjak dari hubungan percintaan, para pemerannya selalu menggunakan pakaian yang modis, dan masih banyak lagi. Sebagai contoh, di dalam sinetron atau film remaja yang diperankannya itu, pemain laki-laki kebanyakan memakai baju seragam sekolah yang sering dikeluarkan dari celananya sehingga tampak kurang sedap bila dilihat. Begitu juga dengan pemain perempuannya, selain mengeluarkan baju, mereka kebanyakan memakai rok sangat pendek yang boleh dikatakan amat seksi. Bahkan, di sekolah yang tergolong suasana formal (resmi) pun mereka tetap saja memakai pakaian-pakaian yang modis tersebut. Selain seragam sekolah, banyak sekali mode-mode lain yang sangat digandrungi, terutama oleh dunia remaja, seperti, pakaian santai di rumah, pakaian travelling, dan sebagainya.
Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai tren pakaian yang melanda dunia remaja kita. Menurut penulis, tren pakaian yang bergonta-ganti tiap waktu bukannya membuat akibat positif, melainkan banyak sekali mengundang akibat negatif.
***
Sebagaimana telah diketahui bahwa dunia fashion dari waktu ke waktu selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Kita tentu masih ingat celana cutbrai yang digandrungi oleh kaum Adam di tahun 70-80-an, terutama remaja. Tak lama kemudian, berganti ke model yang lain. Dari tahun ke tahun terus-menerus berganti hingga sampai pada mode yang digandrungi remaja dewasa ini adalah seperti yang digunakan oleh personel band The Changcuters: celana ketat dari atas sampai bawah. Sungguh banyak jenis pakaian, baik baju maupun celana, yang telah digandrungi oleh generasi muda kita, baik laki-laki maupun perempuan.
Pakaian merupakan salah satu mode yang sangat cepat perubahannya bila dibandingkan dengan mode-mode lainnya. Dalam waktu sebulan ke depan, mungkin saja mode pakaian yang berkembang di Indonesia akan berubah dengan beriringnya zaman dan pengaruh dari berbagai pihak, terutama dari tontonan di televisi.
Faktor dominan yang memengaruhi hal-hal di atas adalah tayangan-tayangan televisi. Maka tak jarang lagi kita lihat, sebagian besar siswa SMA (remaja) memakai pakaian ala artis. Para perempuan memakai baju seragam sekolahnya begitu ketat dengan menonjolkan lekuk tubuhnya, rok yang digunakannya pun begitu seksi (rok mini sampai paha) mempertontonkan putihnya paha, dan lain-lain. Adapun laki-laki memakai celana seragam ketat (kuncup) yang kadang-kadang celana dalam (maaf) sengaja diperlihatkan, apalagi bila mereka jongkok.
Semua itu adalah hasil imitasi yang salah dari pencarian jati diri seorang remaja. Karakteristik dunia remaja adalah mencari jati diri dan panutan. Mereka tengah mencari identitas diri dengan mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh idola. Jika panutannya salah, maka mereka pun akan terjebak dalam kesalahan.
Dr. Arif Sadiman, M.Sc., dalam tulisannya yang berjudul ”Pengaruh Televisi pada Perubahan Perilaku” mengutip laporan UNESCO (1994) bahwa pada tahun 1994 koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat aksi kekerasan. Hasilnya menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka itu sering menyaksikan film-film kekerasan yang ada di televisi-televisi (Jurnal Teknodik No.7/IV/Oktober/1999).
Data yang dilaporkan UNESCO di atas memang membahas hubungan antara televisi dengan tindak kekerasan, tetapi tidak menutup kemungkinan juga menyangkut hubungan antara televisi dengan dunia fashion. Berbagai pengaruh dapat ‘ditularkan’ oleh televisi, misalnya, cara berbicara, tingkah laku, tindak kekerasan, dan bahkan, cara berpakaian. Hal itu disebabkan oleh televisi memadukan audio dan visual sehingga membuat para pemirsa dapat dengan cepat meniru apa yang ada di dalam tontonan televisi.
Para remaja tak ada salahnya mengikuti mode fashion yang sedang berkembang. Namun, yang harus diperhatikan terlebih dahulu adalah apakah model pakaian tertentu yang mereka gandrungi tersebut sesuai dengan norma agama dan norma kesopanan? Apakah sesuai dengan masyarakat ketimuran kita yang masih menjunjung kesopanan?
Akibat dari salah panutan dalam cara berpakaian dewasa ini sudah banyak terjadi di masyarakat. Salah satu akibatnya yang sangat membuat hati miris adalah tindak pemerkosaan terhadap perempuan semakin marak terjadi di lingkungan kita.
Menurut penulis, sebagaimana telah penulis ungkapkan di atas bahwa tak ada salahnya untuk mengikuti mode, tetapi harus dibarengi dengan keahlian dalam menyaring perkembangan fashion tersebut. Maksudnya adalah kita jangan sembarang mengikuti arus zaman, tetapi harus pintar memilih antara yang baik dengan buruk. Yang paling penting untuk diingat adalah kesesuaian mode tertentu dengan norma yang ada di masyarakat. Agar seorang individu pintar memilih perkembangan mode pakaian antara yang baik dengan yang buruk adalah perlunya penanaman budi pekerti sejak kecil dari orang tua kepada anaknya, baik agama maupun akhlak. Dengan begitu, mereka akan memiliki ‘daya tahan’ tersendiri untuk memilih baik-buruknya suatu hasil produksi perkembangan mode pakaian.
***
Dimuat di Harian Umum Bandung Ekspres, 17 April 2009

06 April 2009

Globalisasi Merusak Moral Remaja

Globalisasi Merusak Moral Remaja
Sungguh sangat menarik ketika membaca liputan di Harian Bandung Ekspres Edisi Rabu, 11 Februari 2009 kemarin pada halaman 13. Tulisan itu berjudul ‘Tolak Kalau Diajak ML’. Pada awal tulisan itu ditulis begini, “Memperhatikan pergaulan remaja, apalagi remaja putri, bukan melulu menjadi masalah sepihak, namun itu menjadi masalah semua pihak”. Memang benar, pergaulan remaja adalah masalah kita bersama. Moral remaja – apalagi pada era modernisasi dan globalisasi seperti ini – sangat harus diperhatikan. Jika terpeleset, maka lambat laun moralnya akan berbahaya.
Dalam kondisi masa kini yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi seperti ini, banyak kalangan yang menganggap bahwa kondisi kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini – khususnya generasi muda – berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Remaja bangsa ini sekarang banyak yang telah meninggalkan budaya asli Indonesia yang selalu mengedepankan adat ketimurannya.
Dahulu adat ketimuran ini dipegang sangat erat oleh masyarakat Indonesia – terutama oleh orang pedesaan. Akan tetapi, sekarang pola pikir masyarakat Indonesia telah bergeser menuju kebarat-baratan. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh globalisasi yang menerpa para generasi muda Indonesia masa kini, seperti melalui internet, handphone, televisi, dan lain-lain.
Penulis menilai bahwa arus modernisasi dan globalisasi itu mempunyai banyak nilai positif dan negatifnya:
Segi positifnya, informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat daripada masa-masa sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara manual. Selain itu, semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang yang tidak mengikuti era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman sejawatnya.
Sisi negatif dari arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah sedikitnya, fasilitas-fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar disalahgunakan oleh para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering dijadikan arena untuk mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk menyimpan data-data yang tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain.
Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah para penikmat ’aksesoris-aksesoris’ era modernisasi ini kebanyakan melakukan hal-hal yang sebagaimana diungkapkan di atas. Yang membuat hati semua masyarakat Indonesia miris lagi, objeknya adalah para remaja, sang penerus bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
Para remaja bukannya ’disibukkan’ untuk menuntut ilmu dalam meneruskan pembangunan bangsa ke depan, melainkan disibukkan dengan menikmati ’hiburan-hiburan’ yang tersaji pada era globalisasi sekarang ini, seperti handphone, televisi, dan lain-lain. Bahkan, ’hiburan-hiburan’ yang bersifat negatif pun mereka terima dan nikmati. Mereka tidak sadar bahwa hal itu akan memorak-porandakan negara ini dalam waktu beberapa saat lagi.
Bagi para produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar bisnis yang sangat potensial karena pola konsumsi seseorang itu terbentuk pada saat usia remaja. Di samping itu, remaja juga sangat mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan sesuatu yang dimilikinya, misalnya uang atau harta benda.
Sifat-sifat di atas itulah yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk memasuki ‘pasar remaja’. Jadi sering sekali kita lihat di televisi-televisi bahwa intensitas acara remaja itu lebih banyak daripada acara kalangan usia lain.
Salah satu karakter yang khas di kalangan remaja adalah identifikasi (peniruan dan penyeragaman) dalam suatu kelompok. Untuk itu, mereka biasanya membutuhkan panutan untuk dijadikan contoh. Saat ini, kita harus mengakui bahwa remaja masa kini miskin figur panutan yang bisa dijadikan contoh. Betapa tidak, di satu sisi mereka sangat membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan panutan, sedangkan di sisi lain mereka disuguhi panutan-panutan yang berlaku negatif yang sering tampil di layar-layar televisi, misalnya pemain sinetron yang sering memerankan adegan berpacaran, berpegangan tangan antar lawan jenis, dan lain-lain.
Penulis akan memberikan contoh pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap moral remaja dewasa ini. Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap perilaku seseorang telah dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh American Psychological Association (APA) pada tahun 1995 bahwa tayangan yang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak.
Sebuah penelitian tentang pergaulan remaja di kabupaten Bandung memberikan informasi kepada kita bahwa sekitar 40 % remajanya sudah pernah berciuman dengan pasangannya. Sedangkan 60 % remaja Bandung pernah bersentuhan dengan teman lawan jenisnya. Dalam hal ini seperti berpegangan tangan, dan lain-lain. Kemudian sekitar 25 % dari data itu sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Hasil penelitian tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi kita semua, mengingat kabupaten Bandung belumlah menjadi daerah yang modern seperti halnya kota Bandung.
Untuk menanggulangi permasalahan di atas diharapkan peran aktif pihak keluarga terutama para orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar anak-anaknya tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang negatif. Orang tua hendaklah memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Sesungguhnya nilai moral dan budi pekerti yang merupakan fondasi utama perilaku baik dapat dimiliki oleh setiap orang dari keteladanan orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat yang diidolakannya.
Pemahaman dan pengamalan ajaran agama semenjak dini pun diyakini dapat menanggulangi permasalahan di atas. Pengetahuan agama akan membentengi seseorang dari perilaku amoral, kriminal, dan budaya-budaya asing yang negatif.
***

Globalisasi Merusak Moral Remaja

Globalisasi Merusak Moral Remaja
Sungguh sangat menarik ketika membaca liputan di Harian Bandung Ekspres Edisi Rabu, 11 Februari 2009 kemarin pada halaman 13. Tulisan itu berjudul ‘Tolak Kalau Diajak ML’. Pada awal tulisan itu ditulis begini, “Memperhatikan pergaulan remaja, apalagi remaja putri, bukan melulu menjadi masalah sepihak, namun itu menjadi masalah semua pihak”. Memang benar, pergaulan remaja adalah masalah kita bersama. Moral remaja – apalagi pada era modernisasi dan globalisasi seperti ini – sangat harus diperhatikan. Jika terpeleset, maka lambat laun moralnya akan berbahaya.
Dalam kondisi masa kini yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi seperti ini, banyak kalangan yang menganggap bahwa kondisi kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini – khususnya generasi muda – berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Remaja bangsa ini sekarang banyak yang telah meninggalkan budaya asli Indonesia yang selalu mengedepankan adat ketimurannya.
Dahulu adat ketimuran ini dipegang sangat erat oleh masyarakat Indonesia – terutama oleh orang pedesaan. Akan tetapi, sekarang pola pikir masyarakat Indonesia telah bergeser menuju kebarat-baratan. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh globalisasi yang menerpa para generasi muda Indonesia masa kini, seperti melalui internet, handphone, televisi, dan lain-lain.
Penulis menilai bahwa arus modernisasi dan globalisasi itu mempunyai banyak nilai positif dan negatifnya:
Segi positifnya, informasi yang didapat menjadi lebih cepat dan akurat daripada masa-masa sebelumnya yang kebanyakan masih menggunakan cara-cara manual. Selain itu, semua orang juga merasa senang apabila ikut serta terhadap perkembangan zaman. Mereka tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Malah orang yang tidak mengikuti era globalisasi ini seringkali diejek oleh teman sejawatnya.
Sisi negatif dari arus modernisasi dan globalisasi pun juga tak kalah sedikitnya, fasilitas-fasilitas yang ada di era globalisasi ini sebagian besar disalahgunakan oleh para penggunanya. Contoh, internet sekarang ini sering dijadikan arena untuk mencari situs-situs porno, handphone digunakan untuk menyimpan data-data yang tidak mendidik moral seseorang, dan lain-lain.
Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah para penikmat ‘aksesoris-aksesoris’ era modernisasi ini kebanyakan melakukan hal-hal yang sebagaimana diungkapkan di atas. Yang membuat hati semua masyarakat Indonesia miris lagi, objeknya adalah para remaja, sang penerus bangsa Indonesia di masa yang akan datang.
Para remaja bukannya ‘disibukkan’ untuk menuntut ilmu dalam meneruskan pembangunan bangsa ke depan, melainkan disibukkan dengan menikmati ‘hiburan-hiburan’ yang tersaji pada era globalisasi sekarang ini, seperti handphone, televisi, dan lain-lain. Bahkan, ‘hiburan-hiburan’ yang bersifat negatif pun mereka terima dan nikmati. Mereka tidak sadar bahwa hal itu akan memorak-porandakan negara ini dalam waktu beberapa saat lagi.
Bagi para produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar bisnis yang sangat potensial karena pola konsumsi seseorang itu terbentuk pada saat usia remaja. Di samping itu, remaja juga sangat mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan sesuatu yang dimilikinya, misalnya uang atau harta benda.
Sifat-sifat di atas itulah yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk memasuki ‘pasar remaja’. Jadi sering sekali kita lihat di televisi-televisi bahwa intensitas acara remaja itu lebih banyak daripada acara kalangan usia lain.
Salah satu karakter yang khas di kalangan remaja adalah identifikasi (peniruan dan penyeragaman) dalam suatu kelompok. Untuk itu, mereka biasanya membutuhkan panutan untuk dijadikan contoh. Saat ini, kita harus mengakui bahwa remaja masa kini miskin figur panutan yang bisa dijadikan contoh. Betapa tidak, di satu sisi mereka sangat membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan panutan, sedangkan di sisi lain mereka disuguhi panutan-panutan yang berlaku negatif yang sering tampil di layar-layar televisi, misalnya pemain sinetron yang sering memerankan adegan berpacaran, berpegangan tangan antar lawan jenis, dan lain-lain.
Penulis akan memberikan contoh pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap moral remaja dewasa ini. Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap perilaku seseorang telah dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Seperti diungkapkan oleh American Psychological Association (APA) pada tahun 1995 bahwa tayangan yang bermutu akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. Bahkan, penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka terima dari media semenjak usia anak-anak.
Sebuah penelitian tentang pergaulan remaja di kabupaten Bandung memberikan informasi kepada kita bahwa sekitar 40 % remajanya sudah pernah berciuman dengan pasangannya. Sedangkan 60 % remaja Bandung pernah bersentuhan dengan teman lawan jenisnya. Dalam hal ini seperti berpegangan tangan, dan lain-lain. Kemudian sekitar 25 % dari data itu sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Hasil penelitian tersebut menjadi keprihatinan tersendiri bagi kita semua, mengingat kabupaten Bandung belumlah menjadi daerah yang modern seperti halnya kota Bandung.
Untuk menanggulangi permasalahan di atas diharapkan peran aktif pihak keluarga terutama para orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar anak-anaknya tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang negatif. Orang tua hendaklah memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Sesungguhnya nilai moral dan budi pekerti yang merupakan fondasi utama perilaku baik dapat dimiliki oleh setiap orang dari keteladanan orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat yang diidolakannya.
Pemahaman dan pengamalan ajaran agama semenjak dini pun diyakini dapat menanggulangi permasalahan di atas. Pengetahuan agama akan membentengi seseorang dari perilaku amoral, kriminal, dan budaya-budaya asing yang negatif.
***
Dimuat di Harian Umum Bandung Ekspres, 12 Februari 2009

05 April 2009

Buku dan Dunia Remaja

Buku dan Dunia Remaja
Dunia perbukuan Indonesia beberapa tahun belakangan ini, tepatnya tahun 2000-an, ‘dikayakan’ oleh cerita rekaan (fiksi) yang menceritakan tentang seluk-beluk kehidupan dunia remaja. Jenisnya beragam, antara lain, roman picisan, novel remaja, dan teenlit (teenagers literature). Akan tetapi, tema yang diangkat dalam karya-karya yang merebak marak tersebut hanya didominasi oleh tema percintaan (baca: pacaran) saja, seperti, yang dibumbui dengan kisah-kisah PDKT, ‘jadian’ dengan sang pujaan hati, putus, nyambung, dan bahkan, (maaf) disertai pendeskripsian adegan pegangan serta ciuman yang menuju ke arah pengrusakan moral. Selain adegan percintaan, novel-novel remaja yang beredar kini kebanyakan menawarkan mimpi tentang gaya hidup anak muda perkotaan sebagai ukuran keberhasilan dalam berbagai hal tentang dunia modern (Majalah Annida, edisi No.3/XVII, 1-30 November 2007).
Jakarta sentris menjadi satu-satunya idiom yang mereka gumuli habis-habisan, sebab berbanding lurus dengan gaya hidup anak muda perkotaan di Amerika (yang dibawa oleh para penulis novel remajanya). Akibatnya, para penulis, terutama teenlit, tidak mampu berkelit dari kedangkalan ide, konflik, plot, dan pilihan kata: bahwa dunia remaja adalah dunia gampangan: gampang ciuman, gampang hamil, gampang putus asa, gampang buang, dan seterusnya.
Fenomena di atas sangatlah disayangkan mengingat bahwa usia anak-anak sampai usia remaja sebaiknya disuguhkan hal-hal yang bersifat mendidik, bukannya hal-hal percintaan yang tidak mendidik seperti itu. Hal ini disebabkan oleh, dilihat dari sisi psikologis, karakteristik usia remaja adalah meniru (imitasi) sesuatu yang menurut mereka benar, walaupun itu salah menurut norma.
Akan tetapi, fenomena yang kita saksikan sekarang ini sungguh sangat jauh berbeda dari harapan yang diinginkan. Ternyata, para remaja sangat menggemari karya-karya yang penulis sebutkan di atas (novel-novel remaja). Mereka tidak tahu-menahu keburukan dengan membaca karya-karya seperti itu. Salah satu contoh, Penerbit Gramedia menerbitkan teenlit sejak awal tahun 2004. Judul novel pertama teenlit kebetulan masih yang produk terjemahan, yaitu Stargirl karya Jerry Spinelli. Diberi label ‘teenlit’ karena waktu itu mereka ingin menciptakan tren saja. Kebetulan tahun sebelumnya (2003) mereka sukses dengan label ‘chicklit’. Ternyata teenlit pun sukses. Melihat dari jumlah oplah buku-buku teenlit tersebut, bisa dibilang respon pembaca sangat bagus.
Mengapa karya-karya seperti itu diminati?
Penulis menilai bahwa penyebabnya ada beberapa hal, antara lain, bahasa yang digunakan dalam karya-karya tersebut cenderung ringan, renyah, gurih, dan sangat mudah dicerna oleh para pembacanya. Hal ini disebabkan oleh para penulisnya sendiri didominasi oleh para remaja juga. Asma Nadia mengatakan, “Menurut saya, ini karena pengarang-pengarangnya remaja juga, bahasanya ya bahasa mereka, sehingga mereka bisa merepresentasikan dunia remaja itu lebih baik, tidak perlu “meminjam kacamata” siapapun”. Bila melihat karya-karya (novel-novel) yang menggunakan bahasa-bahasa yang ‘berat’ dan sangat susah untuk dicerna, para pembaca remaja justeru ‘menjauh’ untuk tidak membacanya.
Bagi para produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar bisnis yang sangat potensial karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada saat usia remaja. Di samping itu, remaja juga sangat mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan sesuatu yang dimilikinya, misalnya uang atau harta benda lainnya.
Sifat-sifat di atas itulah yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk memasuki ‘pasar remaja’. Jadi, seringkali kita saksikan acara-acara di televisi bahwa intensitas acara untuk remaja itu lebih banyak daripada acara kalangan usia lain. Begitu halnya juga dengan dunia perbukuan dewasa ini, buku-buku yang menceritakan tentang kehidupan remaja lumayan digandrungi oleh para pembaca remaja.
Salah satu karakter yang khas di kalangan remaja adalah identifikasi (peniruan) dalam suatu kelompok. Mereka meniru apa saja yang menurut mereka baik, walaupun tidak sesuai dengan norma sosial dan norma agama. Karenanya mereka wajib membutuhkan panutan untuk dijadikan contoh dalam tingkah laku mereka sehari-hari. 
Saat ini, kita harus mengakui bahwa remaja masa kini miskin figur panutan yang bisa dijadikan contoh oleh mereka. Coba saja kita lihat di televisi dan bahkan, di buku, tema-tema yang diangkat dalam acara-acara televisi dan dalam buku-buku remaja tersebut didominasi oleh adegan-adegan percintaan. Maka dari itu, kita tak usah heran lagi mengapa moral remaja Indonesia dewasa ini menurun dari tahun ke tahun. Moral bangsa Indonesia kini, terutama para remaja, boleh saya katakan sangat bobrok. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh-pengaruh negatif yang ‘diterima’ oleh para remaja dari berbagai media, baik media cetak (surat kabar, buku, dan lain-lain) maupun media elektronik (televisi, internet, dan lain-lain), semakin meningkat dari hari ke hari.
Betapa tidak, di satu sisi mereka sangat membutuhkan seseorang yang dapat dijadikan panutan, sedangkan di sisi lain mereka disuguhi panutan-panutan yang berlaku negatif yang sering tampil di layar-layar televisi, misalnya pemain sinetron yang sering memerankan adegan berpacaran, berpegangan tangan antar lawan jenis, dan lain-lain.
***
Dimuat di Harian Umum Bandung Ekspres, 15 Maret 2009